Comments on: -> The Point of DistinctioN <- http://fresh-black-coffee.blog.friendster.com/2005/07/the-point-of-distinction/ - Where you can chill & just have a cup of hot chocolate or coffee with jazzy tunes playing on your CD player! - Mon, 09 May 2011 12:15:34 +0000 http://wordpress.org/?v=2.6.2 By: Paul http://fresh-black-coffee.blog.friendster.com/2005/07/the-point-of-distinction/#comment-2 Paul Sat, 23 Jul 2005 01:57:44 +0000 http://fresh-black-coffee.blog.friendster.com/2005/07/the-point-of-distinction/#comment-2 at last, one of the blog worth reading. First thing first. Actually, distinction itu beda dari perfection. Distinction: differentiation: a discrimination between things as different and distinct; "it is necessary to make a distinction between love and infatuation" eminence: high status importance owing to marked superiority; "a scholar of great eminence" a distinguishing quality; "it has the distinction of being the cheapest restaurant in town" a distinguishing difference; "he learned the distinction between gold and lead" Perfection: the state of being without a flaw or defect paragon: an ideal instance; a perfect embodiment of a concept the act of making something perfect But since kelihatannya elo lebih banyak membahas masalah perfection, maka mari kita bahas perfection. Gw setuju banget kalo dibilang perfection itu adalah titik yang diincar segala umat. Tapi kesempurnaan itu ada banyak jenisnya, isn't it? Misalkan seseorang dibilang sempurna dalam pengetahuannya akan Mathematics, maka ada kemungkinan bahwa dia tidak sempurna dalam hal-hal yang lain. Tapi seperti apa orang yang pengetahuannya sempurna dalam suatu bidang? Dengan parameter apa kita bisa membuktikan bahwa satu orang sempurna, sementara yang lain tidak? Tentunya kita tahu pandai tidaknya seorang dalam Math adalah dengan mengajukan pertanyaan. Tapi seperti apa orang yang sempurna harus menjawab pertanyaan? Soal dijawab dalam 0.000001 ms? Dengan sistematika seperti apa? Nyatanya, gw enggak tau. Dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa yang namanya kesempurnaan adalah sesuatu yang di luar batas pengetahuan kita, bahkan di luar batas imajinasi kita. Gw menganggap menarik cara Julz menganalogikan _perfection_ dengan _infinity_, karena keduanya adalah imaginary yang bahkan unimaginable. Masalah point of distinction. Perfection pasti Point of Distinction. Tapi Point of Distinction not necessarily Perfection. Sedikit perbedaan mutu bisa jadi adalah Point of Distinction antara A dan B, tapi not necessarily jadi satu titik kesempurnaan. Gw kira perkataan: nobody's perfect itu sedikit terlalu berani. Nyatanya kita gak bisa membedakan seperti apa sempurna itu, seperti apa tidak. Lalu bagaimana kita yang gak tau bagaimana halnya untuk men-distinguish kedua hal tersebut bisa dengan pede menyatakan gak ada yang sempurna? Kembali ke masalah Point of Distinction, maka kita pun bisa menyimpulkan bahwa ada kemungkinan kalau Point of Distinction antara Perfect dengan Imperfect adalah Point of Distinction yang gak bisa kita distinct, dan kembali lah kita kepada imaginary point. Jadi apakah _perfection_ itu non-existant? Gw pribadi lebih setuju menyebutnya dengan _not knowable_. Tapi yang pasti sih ada The One yang perfect, jadi kita cuma membicarakan perfection among humanities. Tapi berhubung tidak ada manusia yang dapat menyamai The One, maka manusia tidak ada yang sempurna secara sempurna. Sempurna secara sepihak? Not knowable. Another noteworthy thing itu adalah kalau Perfection itu ada _di luar_ batas pikiran dan imajinasi, tapi _di luar_ batas pikiran dan imajinasi not necessarily sama dengan Perfection. For instance, anggaplah kalau semut bisa mikir. Maka seperti apakah kita di mata mereka? Bukankah kita di luar batas mereka? Mereka tentu gak habis pikir kalau kita bisa bikin kopi dengan mesin yang kompleks, bisa telpon, bisa chatting, and so on and so on and so on.. Tapi nyatanya kita bukan tidak terbatas. Mungkin mereka bisa menganggap kita tidak terbatas, karena kita di luar imajinasi dan pengetahuan mereka. Mereka _tidak tahu_ batas-batas kita. Untuk membayangkan hal-hal yang bisa kita lakukan yang mereka enggak aja udah sampe geleng-geleng kepala, apalagi untuk mengetahui sampai mana batas kemampuan kita? Nah, kita yang _tahu_ batas-batas kita lah yang bisa menyimpulkan kalau kita ini terbatas. Jadi kita bisa jadi _di luar batas pikiran_ (yang sangat bergantung pada sudut pandang yang melihat), tapi tetap tidak jadi sempurna. Sekarang kita bicara masalah aplikasi nya. Mengapa kita mengejar nilai tertinggi di kelas? Karena untuk nilai secara akademik, maka ada yang namanya Perfect Score. Berapa? Mungkin 10, mungkin 100, mungkin A+, mungkin 65/65. 100%. Apa gunanya kita mengejar score tersebut? Karena score tersebut achievable! Sebab pembuat soal membuat soal yang ada jawabannya, apa pun jawabannya itu (jawaban 'tidak ada jawaban' juga termasuk jawaban yang valid, bila memang itu yang dituntut sang pembuat soal). Alasan kedua kita mengejar score tersebut adalah untuk memperbaiki diri. Kalau semisal kita dapat 4/10, lalu kita melihatnya ke orang orang yang nilainya 1 2 3, maka seumur umur kita gak bakalan maju maju. Dan kalau semua orang seperti itu celakalah kita, artinya gak akan keluar lagi Pentium 5, kenapa? Karena Pentium 4 melihat nya ke Pentium 1 2 3, dan puas dengan itu. Karena itu kita harus melihat kepada kemungkinan yang terbaik. Berapa lama baru kita bisa mencapai titik tersebut? Ya enggak tahu. Tapi yang pasti kita harus belajar untuk lebih baik dari kita yang sekarang. Untuk masalah kekecewaan, gw rasa hal tersebut gak ada hubungannya dengan ada-tidaknya kesempurnaan, tapi lebih kepada bagaimana seseorang menyikapi suatu masalah. Perfect score (dalam akademis) itu ada, dan Winner (dalam kompetisi) juga ada, dan mereka achievable. Failure is simply another step towards success kok. Tapi yang pasti adalah salah kalau mempergunakan ambiguitas dari Perfection sebagai alasan untuk tidak berusaha lebih jauh maupun alasan untuk tidak kecewa. Yang harus dibenahi itu bagaimana kita meng-handle ketidak-berhasilan kita mencapai titik tertentu kok. Just my 2 cents. at last, one of the blog worth reading.

First thing first. Actually, distinction itu beda dari perfection.

Distinction:
differentiation: a discrimination between things as different and distinct; “it is necessary to make a distinction between love and infatuation”
eminence: high status importance owing to marked superiority; “a scholar of great eminence”
a distinguishing quality; “it has the distinction of being the cheapest restaurant in town”
a distinguishing difference; “he learned the distinction between gold and lead”

Perfection:
the state of being without a flaw or defect
paragon: an ideal instance; a perfect embodiment of a concept
the act of making something perfect

But since kelihatannya elo lebih banyak membahas masalah perfection, maka mari kita bahas perfection.
Gw setuju banget kalo dibilang perfection itu adalah titik yang diincar segala umat. Tapi kesempurnaan itu ada banyak jenisnya, isn’t it? Misalkan seseorang dibilang sempurna dalam pengetahuannya akan Mathematics, maka ada kemungkinan bahwa dia tidak sempurna dalam hal-hal yang lain. Tapi seperti apa orang yang pengetahuannya sempurna dalam suatu bidang? Dengan parameter apa kita bisa membuktikan bahwa satu orang sempurna, sementara yang lain tidak?

Tentunya kita tahu pandai tidaknya seorang dalam Math adalah dengan mengajukan pertanyaan. Tapi seperti apa orang yang sempurna harus menjawab pertanyaan? Soal dijawab dalam 0.000001 ms? Dengan sistematika seperti apa? Nyatanya, gw enggak tau. Dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa yang namanya kesempurnaan adalah sesuatu yang di luar batas pengetahuan kita, bahkan di luar batas imajinasi kita. Gw menganggap menarik cara Julz menganalogikan _perfection_ dengan _infinity_, karena keduanya adalah imaginary yang bahkan unimaginable.

Masalah point of distinction. Perfection pasti Point of Distinction. Tapi Point of Distinction not necessarily Perfection. Sedikit perbedaan mutu bisa jadi adalah Point of Distinction antara A dan B, tapi not necessarily jadi satu titik kesempurnaan. Gw kira perkataan: nobody’s perfect itu sedikit terlalu berani. Nyatanya kita gak bisa membedakan seperti apa sempurna itu, seperti apa tidak. Lalu bagaimana kita yang gak tau bagaimana halnya untuk men-distinguish kedua hal tersebut bisa dengan pede menyatakan gak ada yang sempurna? Kembali ke masalah Point of Distinction, maka kita pun bisa menyimpulkan bahwa ada kemungkinan kalau Point of Distinction antara Perfect dengan Imperfect adalah Point of Distinction yang gak bisa kita distinct, dan kembali lah kita kepada imaginary point.

Jadi apakah _perfection_ itu non-existant? Gw pribadi lebih setuju menyebutnya dengan _not knowable_. Tapi yang pasti sih ada The One yang perfect, jadi kita cuma membicarakan perfection among humanities. Tapi berhubung tidak ada manusia yang dapat menyamai The One, maka manusia tidak ada yang sempurna secara sempurna. Sempurna secara sepihak? Not knowable.

Another noteworthy thing itu adalah kalau Perfection itu ada _di luar_ batas pikiran dan imajinasi, tapi _di luar_ batas pikiran dan imajinasi not necessarily sama dengan Perfection. For instance, anggaplah kalau semut bisa mikir. Maka seperti apakah kita di mata mereka? Bukankah kita di luar batas mereka? Mereka tentu gak habis pikir kalau kita bisa bikin kopi dengan mesin yang kompleks, bisa telpon, bisa chatting, and so on and so on and so on.. Tapi nyatanya kita bukan tidak terbatas. Mungkin mereka bisa menganggap kita tidak terbatas, karena kita di luar imajinasi dan pengetahuan mereka. Mereka _tidak tahu_ batas-batas kita. Untuk membayangkan hal-hal yang bisa kita lakukan yang mereka enggak aja udah sampe geleng-geleng kepala, apalagi untuk mengetahui sampai mana batas kemampuan kita? Nah, kita yang _tahu_ batas-batas kita lah yang bisa menyimpulkan kalau kita ini terbatas. Jadi kita bisa jadi _di luar batas pikiran_ (yang sangat bergantung pada sudut pandang yang melihat), tapi tetap tidak jadi sempurna.

Sekarang kita bicara masalah aplikasi nya. Mengapa kita mengejar nilai tertinggi di kelas? Karena untuk nilai secara akademik, maka ada yang namanya Perfect Score. Berapa? Mungkin 10, mungkin 100, mungkin A+, mungkin 65/65. 100%. Apa gunanya kita mengejar score tersebut? Karena score tersebut achievable! Sebab pembuat soal membuat soal yang ada jawabannya, apa pun jawabannya itu (jawaban ‘tidak ada jawaban’ juga termasuk jawaban yang valid, bila memang itu yang dituntut sang pembuat soal). Alasan kedua kita mengejar score tersebut adalah untuk memperbaiki diri. Kalau semisal kita dapat 4/10, lalu kita melihatnya ke orang orang yang nilainya 1 2 3, maka seumur umur kita gak bakalan maju maju. Dan kalau semua orang seperti itu celakalah kita, artinya gak akan keluar lagi Pentium 5, kenapa? Karena Pentium 4 melihat nya ke Pentium 1 2 3, dan puas dengan itu. Karena itu kita harus melihat kepada kemungkinan yang terbaik. Berapa lama baru kita bisa mencapai titik tersebut? Ya enggak tahu. Tapi yang pasti kita harus belajar untuk lebih baik dari kita yang sekarang.

Untuk masalah kekecewaan, gw rasa hal tersebut gak ada hubungannya dengan ada-tidaknya kesempurnaan, tapi lebih kepada bagaimana seseorang menyikapi suatu masalah. Perfect score (dalam akademis) itu ada, dan Winner (dalam kompetisi) juga ada, dan mereka achievable. Failure is simply another step towards success kok. Tapi yang pasti adalah salah kalau mempergunakan ambiguitas dari Perfection sebagai alasan untuk tidak berusaha lebih jauh maupun alasan untuk tidak kecewa. Yang harus dibenahi itu bagaimana kita meng-handle ketidak-berhasilan kita mencapai titik tertentu kok.

Just my 2 cents.

]]>